Tantangan Menciptakan Jam Tangan untuk Saturation Diving

Tantangan Menciptakan Jam Tangan untuk Saturation Diving

Selama beberapa tahun terakhir, diver’s watch mendapat animo yang tinggi di antara para kolektor dan pencinta jam tangan. Berbagai brand pun berlomba menciptakan jam tangan diver terbaik, sebut saja Seiko, G-Shock, Spinnaker, Oris, hingga Citizen.

Di antara para penggemar diver’s watch, salah satu topik yang paling sering dibicarakan adalah soal saturation diving. Alasannya, kebanyakan jam diver yang menarik diciptakan secara spesifik untuk memenuhi kebutuhan penyelam saturasi. Kenapa saturation diver butuh spesifikasi jam tangan yang mumpuni?

Sebelumnya, mari kita bahas dulu tentang scuba diving yang umum dilakukan penyelam rekreasi. Scuba merupakan kependekan dari Self-Contained Underwater Breathing Apparatus. Jika ingin mencobanya, kamu harus memakai set scuba yang terdiri atas regulator, tabung udara, octopus, baju selam, dan lain sebagainya.

Scuba diving. Foto: Pixabay

Scuba diver bisa menyelam hingga 300 meter di bawah permukaan laut. Saat kembali ke permukaan laut, penyelam scuba harus berhenti secara bertahap (decompression stop) agar jaringan tubuh bisa beradaptasi dengan perubahan tekanan udara. Sebab jika tidak, akan terjadi perubahan tekanan mendadak pada jaringan tubuh yang berakibat pecahnya pembuluh darah, kelumpuhan, hingga kematian.

Nah, bagi diver yang menyelam ke dasar laut untuk perusahaan minyak offshore, scuba diving cukup menguras tenaga dan waktu. Sebab, scuba diver hanya bisa menyelam dalam waktu yang terbatas, yakni hanya 45-60 menit, tergantung kedalamannya. 

Penyelam berhenti sejenak sebelum kembali ke permukaan. Foto: LiveAbout

Setelah menyelam, scuba diver juga harus istirahat di permukaan dalam waktu tertentu sebelum menyelam lagi untuk dekompresi. Dekompresi adalah proses dimana tubuh penyelam menyesuaikan dengan tekanan udara di sekitarnya. Jika diver menyelam pada kedalaman 180 meter, butuh enam hari untuk dekompresi ke tekanan normal. 

Oleh karena itu muncullah teknik saturation diving pada 1960-an. Alih-alih menunggu diver dekompresi setiap kembali ke permukaan, diciptakanlah inovasi untuk menjaga tekanan tubuh penyelam sama dengan tekanan udara di dasar laut. Dengan begitu tubuh penyelam tidak perlu berkali-kali dekompresi.

Caranya adalah dengan membangung kamar khusus bertekanan tinggi (pressure chamber) di atas kapal pendukung. Begitu masuk ke kamar itu, tekanan udara perlahan ditingkatkan menjadi serupa seperti di dasar laut. Istilah saturation sendiri mengarah pada jaringan tubuh diver yang jenuh dengan gas terlarut (terutama nitrogen) karena tekanan udara yang tinggi.

Sebelum turun ke dasar laut, penyelam keluar dari pressure chamber lalu masuk ke diving bell, ruang sempit untuk memindahkan diver dari permukaan ke dasar laut. Jadi penyelam tak perlu menyelam sendiri. Setelah sampai ke lokasi yang diinginkan, diver kemudian keluar dari diving bell untuk mulai bekerja. Entah itu memasang atau memperbaiki peralatan pompa minyak.

Saturation diver diturunkan dari kapal. Ilustrasi: MATT CHINWORTH

Begitu selesai bekerja, mereka kembali ke diving bell, diangkat lagi ke kapal, lalu menunggu shift kerja berikutnya. Namun selama itu, mereka tak boleh keluar dari pressure chamber agar tubuhnya tak mengalami dekompresi. Artinya selama berhari-hari bahkan hingga berminggu-minggu, para saturation diver harus terpisah dengan keluarga bahkan awak kapal lain sebelum project selesai.

Saturation diver harus tinggal di pressure chamber yang tekanan udaranya bisa 19-25 kali lipat dari tekanan normal. Mereka harus tinggal berdesak-desakan, dalam pengawasan CCTV selama 24/7, dan tanpa privasi.

Kamar bertekanan tinggi untuk saturation diver. Ilustrasi: MATT CHINWORTH

Nah, jam tangan seperti apa yang dibutuhkan saturation diver?

Masalah yang sering dialami oleh jam diver’s adalah helium yang berhasil masuk ke dalam case. Atom oksigen mungkin terlalu besar untuk masuk, namun atom helium ternyata cukup kecil untuk menerobos gasket diver’s watch. Akibatnya, tekanan udara dalam case pun ikut meningkat saat dipakai menyelam. 

Ketika penyelam mulai dekompresi begitu pekerjaan selesai, tekanan udara perlahan menurun, helium masih terjebak di dalam case. Alasannya, helium tak bisa keluar dari case secepat menurunnya tekanan udara di luar. Alhasil, ketika tekanan udara di luar jadi sangat kontras dengan tekanan dalam case, kaca jam tangan pun terlepas.

Kalup pelepas helium pada Rolex. Foto: Hodinkee

Itulah tantangan bagi watchmaker yang menciptakan diver’s watch. Solusinya ada dua. Pertama, mereka membuat katup untuk melepas helium lebih cepat saat diver dekompresi. Pengguna hanya perlu memutar crown sehingga kelebihan gas akan keluar. Teknologi ini terdapat dalam Spinnaker Pro Diver yang memiliki water resistance hingga 1000 meter.

Solusi yang kedua adalah membuat case jam tangan tidak bisa ditembus oleh helium. Inilah yang dilakukan Seiko dalam menciptakan Prospex Marine Master. Nampaknya solusi ini membutuhkan ukuran case yang lebih besar. Seiko Marine Master juga tersedia di Jamtangan.com lho!

Pekerjaan saturation diver memperbaiki peralatan pompa minyak. Ilustrasi: MATT CHINWORTH

Lingkungan pekerjaan para saturation driver memang sangat tidak umum. Butuh stabilitas mental yang tinggi serta kontrol diri. Profesi ini bahkan bisa dibilang sebagai salah satu yang paling ekstrem di dunia.

Ya, untungnya banyak brand telah menciptakan diver’s watch untuk mendukung aktivitas ekstrem saturation diver profesional. Dengan begitu para watchmaker turut memudahkan pekerjaan mereka. Keren ya!

Categories: Editor's Choices